Pipiet Senja *
Membincang Karya TKI
Bilik Sastra mengudara mulai Minggu, 16 Januari 2011 pukul 13.05 sd 14.00
WIB. Siarannya melalui live streaming VOI, http://id.voi.co.id/. Siaran kedua
yang merupakan launching secara resmi dilaksanakan 23 Januari 2011, langsung
dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Yasin Taman Ismail Marzuki.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Agustus 2021
Rabu, 25 Agustus 2021
Pasang Surut Penerbitan Novel dalam Sastra NTT
Yohanes Sehandi *
SKM Flores Pos Net, edisi Minggu II, Agu 2021
Sebelum membahas pasang surut penerbitan karya novel dalam sastra NTT, saya perlu menginformasikan data jumlah buku novel karya para sastrawan NTT sejak terbit pertama kali tahun 1964 sampai dengan pertengahan 2021 (selama 57 tahun) ini. Selama 57 tahun ini, penerbitan buku novel dalam sastra NTT berjumlah 84 judul, karya belasan sastrawan NTT.
SKM Flores Pos Net, edisi Minggu II, Agu 2021
Sebelum membahas pasang surut penerbitan karya novel dalam sastra NTT, saya perlu menginformasikan data jumlah buku novel karya para sastrawan NTT sejak terbit pertama kali tahun 1964 sampai dengan pertengahan 2021 (selama 57 tahun) ini. Selama 57 tahun ini, penerbitan buku novel dalam sastra NTT berjumlah 84 judul, karya belasan sastrawan NTT.
Kampus USU Padang Bulan, Sepi Kreatifitas Sastra
Yulhasni
analisadaily.com
Siapa yang tak mengenal Universitas Sumatera Utara (USU) dengan kreatifitas sastranya? Agak terkesan arogan memang, tetapi barangkali pernyataan itu sebagai sebuah keprihatinan yang mendalam atas apa yang sering saya sebut sebagai “kemandekan kreatifitas sastra”.
Saya tidak punya referensi yang akurat soal sejarah perkembangan kreatifitas sastra di USU. Hanya dari beberapa literatur yang sempat saya akses dan bincang-bincang dengan alumni, USU atau dipersempit dengan Fakultas Sastra USU (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), USU pernah melahirkan sejumlah penyair, cerpenis, dan esais/kritikus sastra.
analisadaily.com
Siapa yang tak mengenal Universitas Sumatera Utara (USU) dengan kreatifitas sastranya? Agak terkesan arogan memang, tetapi barangkali pernyataan itu sebagai sebuah keprihatinan yang mendalam atas apa yang sering saya sebut sebagai “kemandekan kreatifitas sastra”.
Saya tidak punya referensi yang akurat soal sejarah perkembangan kreatifitas sastra di USU. Hanya dari beberapa literatur yang sempat saya akses dan bincang-bincang dengan alumni, USU atau dipersempit dengan Fakultas Sastra USU (sekarang Fakultas Ilmu Budaya), USU pernah melahirkan sejumlah penyair, cerpenis, dan esais/kritikus sastra.
Komunitas Seni Medan Terbitkan Kumpulan Cerpen
Andy Riza Hidayat
oase.kompas.com
Penulis cerita pendek (cerpen) Medan yang tergabung dalam Komunitas Seni Medan menerbitkan karya mereka dalam sebuah buku. Buku berjudul Kumpulan Cerpen Medan ini berisi tentang 15 cerpen berlatarbelakang beragam persoalan di Medan.
“Sepanjang yang saya ketahui, belum ada buku kumpulan cerpen yang seluruhnya bertemakan Medan. Inilah yang mendorong kmai menerbitkan buku kumpulan cerpen ini,” tutur Ketua Komunitas Seni Medan (KSM) Teja Purnama, Jumat (4/12) saat peluncuran buku di Taman Budaya Sumatera Utara.
oase.kompas.com
Penulis cerita pendek (cerpen) Medan yang tergabung dalam Komunitas Seni Medan menerbitkan karya mereka dalam sebuah buku. Buku berjudul Kumpulan Cerpen Medan ini berisi tentang 15 cerpen berlatarbelakang beragam persoalan di Medan.
“Sepanjang yang saya ketahui, belum ada buku kumpulan cerpen yang seluruhnya bertemakan Medan. Inilah yang mendorong kmai menerbitkan buku kumpulan cerpen ini,” tutur Ketua Komunitas Seni Medan (KSM) Teja Purnama, Jumat (4/12) saat peluncuran buku di Taman Budaya Sumatera Utara.
Perihal Kreatifitas Sastra (Kampus Usu dan Media Massa)
Bambang Riyanto *
analisadaily.com
Belakangan nama Universitas Sumatera Utara (USU) dalam konteks memajukan Sastra Indonesia menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Pertama kali oleh Yulhasni, dosen Sastra Indonesia UMSU yang juga merupakan alumni Sastra Indonesia USU ini, menulis artikel dengan judul Kampus Padang Bulan, Sepi Kreatifitas Sastra.
analisadaily.com
Belakangan nama Universitas Sumatera Utara (USU) dalam konteks memajukan Sastra Indonesia menjadi bahan diskusi yang cukup hangat. Pertama kali oleh Yulhasni, dosen Sastra Indonesia UMSU yang juga merupakan alumni Sastra Indonesia USU ini, menulis artikel dengan judul Kampus Padang Bulan, Sepi Kreatifitas Sastra.
Minggu, 22 Agustus 2021
Buku-Buku tanpa Kata
Setyaningsih *
Republika, 07 Agu 2016
Tanpa kata-kata, sebuah buku tetap menjadi buku. Memasuki toko buku akhir-akhir ini, kita bisa disapa oleh sekelompok buku tanpa kata-kata sebagai isian makna. Kata-kata barangkali hanya judul, pengantar, atau selingan, bukan kata-kata untuk dibaca.
Republika, 07 Agu 2016
Tanpa kata-kata, sebuah buku tetap menjadi buku. Memasuki toko buku akhir-akhir ini, kita bisa disapa oleh sekelompok buku tanpa kata-kata sebagai isian makna. Kata-kata barangkali hanya judul, pengantar, atau selingan, bukan kata-kata untuk dibaca.
Tubuh Kota dalam Representasi Seni Pertunjukan “Outdoor”
Sepotong Catatan dari Journal of Moment Arts 2003 di Makassar
Yanto le Honzo
sinarharapan.co.id
Journal of Moment Arts (JOMA) adalah program rutin tahunan yang diadakan Sanggar Merah Putih Makassar. Tahun ini adalah kali keempat mereka mengadakannya, mulai tanggal 20-25 Oktober 2003. Untuk tahun ini, mereka memilih wilayah kesenian outdoor sebagai pernyataan dan ekspresi berkesenian, dengan tema “Kota dalam Tubuhku”. JOMA menempatkan visinya pada ruang-ruang publik kota dalam memandang seni pertunjukan sebagai representasi dari kebudayaan kota.
Yanto le Honzo
sinarharapan.co.id
Journal of Moment Arts (JOMA) adalah program rutin tahunan yang diadakan Sanggar Merah Putih Makassar. Tahun ini adalah kali keempat mereka mengadakannya, mulai tanggal 20-25 Oktober 2003. Untuk tahun ini, mereka memilih wilayah kesenian outdoor sebagai pernyataan dan ekspresi berkesenian, dengan tema “Kota dalam Tubuhku”. JOMA menempatkan visinya pada ruang-ruang publik kota dalam memandang seni pertunjukan sebagai representasi dari kebudayaan kota.
Minggu, 15 Agustus 2021
Naskah Drama: Yang Berkecai dan Jarang Disatukan
Mahwi Air Tawar *
JP Radar Madura, 23 Jul 2017
PENERBITAN buku naskah drama tak semenggeliat penerbitan buku-buku novel, cerpen, dan bahkan puisi. Bagi sebagian penerbit, baik penerbit indie maupun mayor, menerbitkan buku naskah drama —setidaknya di Indonesia— dianggap menghamburkan biaya produksi, karena terbatasnya pembeli.
Banyak faktor yang menyebabkan penerbitan buku-buku naskah drama kurang diminati oleh penerbit, baik indie maupun mayor. Selain sulitnya pemasaran buku drama, salah satu faktor lain adalah anggapan bahwa naskah keberadaannya tidak lebih sebagai pelengkap.
JP Radar Madura, 23 Jul 2017
PENERBITAN buku naskah drama tak semenggeliat penerbitan buku-buku novel, cerpen, dan bahkan puisi. Bagi sebagian penerbit, baik penerbit indie maupun mayor, menerbitkan buku naskah drama —setidaknya di Indonesia— dianggap menghamburkan biaya produksi, karena terbatasnya pembeli.
Banyak faktor yang menyebabkan penerbitan buku-buku naskah drama kurang diminati oleh penerbit, baik indie maupun mayor. Selain sulitnya pemasaran buku drama, salah satu faktor lain adalah anggapan bahwa naskah keberadaannya tidak lebih sebagai pelengkap.
Jumat, 13 Agustus 2021
L.K. Ara dan Semangat Sastra yang Terus Menyala
Lesik Keti Ara, Sosok inspiratif dari Tanah Gayo
Willy Ana
steemit.com
ANAK-anak muda pegiat sastra menyapanya dengan sebutan Ayah. Ayah Ara. Termasuk saya. Putra kelahiran kutelintang Takengon Aceh Tengah 12 November 1987 adalah salah seorang sastrawan penting Indonesia. L.K. Ara, nama lengkapnya Lesik Keti Ara, adalah seorang penyair yang hingga sekarang terus berkarya dan terus aktif dalam kegiatan-kegiatan sastra di mana saja. Meskipun usianya sudah senja, 81 tahun, ia tak pernah lelah. Ia kerap hadir di banyak kegiatan sastra di dalam dan luar negeri. Penampilannya teduh dan bersahaja. Ia sosok "ayah" bagi para penulis muda seperti saya.
Willy Ana
steemit.com
ANAK-anak muda pegiat sastra menyapanya dengan sebutan Ayah. Ayah Ara. Termasuk saya. Putra kelahiran kutelintang Takengon Aceh Tengah 12 November 1987 adalah salah seorang sastrawan penting Indonesia. L.K. Ara, nama lengkapnya Lesik Keti Ara, adalah seorang penyair yang hingga sekarang terus berkarya dan terus aktif dalam kegiatan-kegiatan sastra di mana saja. Meskipun usianya sudah senja, 81 tahun, ia tak pernah lelah. Ia kerap hadir di banyak kegiatan sastra di dalam dan luar negeri. Penampilannya teduh dan bersahaja. Ia sosok "ayah" bagi para penulis muda seperti saya.
Rabu, 11 Agustus 2021
Napak Tilas Merah Jambu (NTMJ)
: Novel Sastra Soal Peliknya “Perjuangan” Jika Ingin Nikahi Gadis Bugis
Makassar
Hermawan Mappiwali
sulselsatu.com, 21 Mar 2019
Sebuah novel sastra berjudul Napak Tilas Merah Jambu (NTMJ) terlahir dari tangan seorang penulis perempuan berdarah Makassar, Andi Neneng Nur Fauziah. Ia sendiri lahir 24 tahun silam. Melalui NTMJ, Fauziah sapaan akrab penulis, menuang sebuah realita bagaimana peliknya jika seorang pria ingin menikahi perempuan Bugis-Makassar. Akibatnya, banyak “bujangan” di mana-mana.
Hermawan Mappiwali
sulselsatu.com, 21 Mar 2019
Sebuah novel sastra berjudul Napak Tilas Merah Jambu (NTMJ) terlahir dari tangan seorang penulis perempuan berdarah Makassar, Andi Neneng Nur Fauziah. Ia sendiri lahir 24 tahun silam. Melalui NTMJ, Fauziah sapaan akrab penulis, menuang sebuah realita bagaimana peliknya jika seorang pria ingin menikahi perempuan Bugis-Makassar. Akibatnya, banyak “bujangan” di mana-mana.
Lestarikan Sastra dari Generasi ke Generasi
Forum Arisan Sastra (FAS) Dibentuk
Hasbi Zainuddin
makassar.terkini.id, 15 Jul 2019
Kegiatan sastra itu digelar di Ram Studio Jalan Daeng Tata Hartaco Indah Blok IV AD/10 Makassar, mulai pukul 15.00 hingga 21.00WITA. Asia Ramli Prapanca (Direktur Ram Studio), menyebut, peserta diskusi diundang dengan membawa karya dalam bentuk buku, copian, baik puisi, cerpen, esai, novel, drama, kritik sasta/seni, sejarah, budaya untuk saling memperkenalkan.
Hasbi Zainuddin
makassar.terkini.id, 15 Jul 2019
Kegiatan sastra itu digelar di Ram Studio Jalan Daeng Tata Hartaco Indah Blok IV AD/10 Makassar, mulai pukul 15.00 hingga 21.00WITA. Asia Ramli Prapanca (Direktur Ram Studio), menyebut, peserta diskusi diundang dengan membawa karya dalam bentuk buku, copian, baik puisi, cerpen, esai, novel, drama, kritik sasta/seni, sejarah, budaya untuk saling memperkenalkan.
Sastra Makassar sebagai Etos Kebudayaan di Butta Panrannuangku
Yasin Susilo
takalarterkini.com
Di kalangan orang Makassar, sejak dahulu telah mengenal tentang bahasa berirama atau sastra. Mereka menggunakan sejak dahulu sebagai bahasa sehari-hari, suatu contoh apabila seseorang akan meminang biasanya dicari orang yang mampu bersilat lidah danmelontarkan bahasa-bahasa kiasan atau bahasa tutur, agar pinangannya dapat diterimadipihak wanita. Sama halnya seorang ibu yang menidurkan anak dalam buaian, biasanya didengar irama lagu yang penuh harapan- harapan.
takalarterkini.com
Di kalangan orang Makassar, sejak dahulu telah mengenal tentang bahasa berirama atau sastra. Mereka menggunakan sejak dahulu sebagai bahasa sehari-hari, suatu contoh apabila seseorang akan meminang biasanya dicari orang yang mampu bersilat lidah danmelontarkan bahasa-bahasa kiasan atau bahasa tutur, agar pinangannya dapat diterimadipihak wanita. Sama halnya seorang ibu yang menidurkan anak dalam buaian, biasanya didengar irama lagu yang penuh harapan- harapan.
Tionghoa dan Subversi Sastra Melayu-Rendah
Rukardi
suaramerdeka.com
SASTRA Melayu-Rendah yang juga disebut sastra Melayu-Tionghoa, Melayu-China, Melayu-Pasar, atau Melayu-Lingua Franca, pernah hidup di bumi Nusantara. Meski usianya tak terlampau lama, sejak medio abad ke-19 hingga tahun 1960-an, telah mencatatkan peran penting dalam sejarah literasi di Indonesia.
Memeringati 80 tahun Sumpah Pemuda, Fakultas Sastra Undip bersama Masyarakat Tjerita Silat menggelar bedah buku, sarasehan, dan diskusi yang mengangkat tema di seputar bahasa dan sastra Melayu-Rendah.
suaramerdeka.com
SASTRA Melayu-Rendah yang juga disebut sastra Melayu-Tionghoa, Melayu-China, Melayu-Pasar, atau Melayu-Lingua Franca, pernah hidup di bumi Nusantara. Meski usianya tak terlampau lama, sejak medio abad ke-19 hingga tahun 1960-an, telah mencatatkan peran penting dalam sejarah literasi di Indonesia.
Memeringati 80 tahun Sumpah Pemuda, Fakultas Sastra Undip bersama Masyarakat Tjerita Silat menggelar bedah buku, sarasehan, dan diskusi yang mengangkat tema di seputar bahasa dan sastra Melayu-Rendah.
Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?
Rukardi
suaramerdeka.com
MUNCULNYA perempuan sastrawan dalam ranah kesusastraan Indonesia dalam kurun sepuluh tahun belakangan, menjadi fenomena yang kerap diperbincangkan. Nama-nama Ayu Utami, Dewi ”Dee” Lestari, Djenar Maesa Ayu, Linda Cristanty, Herlinatiens, Nukila Amal, hingga artis tersohor macam Rieke Dyah Pitaloka menyita perhatian kritikus dan pengamat sastra dengan karya ”sastra wangi”-nya.
suaramerdeka.com
MUNCULNYA perempuan sastrawan dalam ranah kesusastraan Indonesia dalam kurun sepuluh tahun belakangan, menjadi fenomena yang kerap diperbincangkan. Nama-nama Ayu Utami, Dewi ”Dee” Lestari, Djenar Maesa Ayu, Linda Cristanty, Herlinatiens, Nukila Amal, hingga artis tersohor macam Rieke Dyah Pitaloka menyita perhatian kritikus dan pengamat sastra dengan karya ”sastra wangi”-nya.
Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia
Rukardi
suaramerdeka.com
Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.
Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia.
suaramerdeka.com
Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.
Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia.
Jumat, 30 Juli 2021
A.S. Dharta (1923-2007): Akhir Hidup Pengarang Lekra
Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007
PADA dasarnya A. S. Dharta itu seorang romantis. Hal itu tampak di antaranya dari nama-nama pena yang digunakannya. Pada masa revolusi, ketika dia mulai menulis sajak dalam majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut dipimpin oleh Achdiat K. Mihardja dengan Tatang Sastrawiria, dia menggunakan nama Kelana Asmara. Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau mempergunakan nama seperti itu. Entah Kelana yang mencari Asmara, entah Asmara yang berkelana. Kemudian dia gunakan juga nama samaran Yogaswara. Seperti diketahui Yogaswara adalah tokoh utama dalam roman R. Memed Satrahadiprawira yang berjudul Mantri Jero.
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007
PADA dasarnya A. S. Dharta itu seorang romantis. Hal itu tampak di antaranya dari nama-nama pena yang digunakannya. Pada masa revolusi, ketika dia mulai menulis sajak dalam majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut dipimpin oleh Achdiat K. Mihardja dengan Tatang Sastrawiria, dia menggunakan nama Kelana Asmara. Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau mempergunakan nama seperti itu. Entah Kelana yang mencari Asmara, entah Asmara yang berkelana. Kemudian dia gunakan juga nama samaran Yogaswara. Seperti diketahui Yogaswara adalah tokoh utama dalam roman R. Memed Satrahadiprawira yang berjudul Mantri Jero.
Kamis, 29 Juli 2021
Lelaki, Daerah, dan Estetika Sastra
Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2006
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id
Tidak benar bahwa lelaki penulis tak produktif dan tak berkualitas dalam dunia kesusasteran Indonesia masa kini. Pernyataan itu secara eksplisit sempat diungkapkan Ahmad Tohari menjelang pengumuman dari Dewan Juri atas lima pemenang novel Dewan Kesenian Jakarta di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (9/3). Lima pemenang lomba kali ini bahkan seluruhnya lelaki.
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id
Tidak benar bahwa lelaki penulis tak produktif dan tak berkualitas dalam dunia kesusasteran Indonesia masa kini. Pernyataan itu secara eksplisit sempat diungkapkan Ahmad Tohari menjelang pengumuman dari Dewan Juri atas lima pemenang novel Dewan Kesenian Jakarta di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (9/3). Lima pemenang lomba kali ini bahkan seluruhnya lelaki.
Langganan:
Postingan (Atom)
A. Syauqi Sumbawi
A.S. Dharta
Abdul Hadi WM
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Abubakar Batarfie
Abdurrahman Wahid
Achmad Faesol
Achmad S
Achmad Soeparno Yanto
Adin
Adrian Balu
Afrizal Malna
Aguk Irawan MN
Agung Sasongko
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus Prasmono
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Ahmad Fanani Mosah
Ahmad Fatoni
Ahmad Mustofa Bisri
Ahmad Tohari
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akhudiat
al-Kindi
Alex R. Nainggolan
Ali Ahsan Al Haris
Ali Audah
Ali Syariati
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Andhika Dinata
Andi Neneng Nur Fauziah
Andra Nur Oktaviani
Andrenaline Katarsis
Andy Riza Hidayat
Anindita S. Thayf
Anton Kurniawan
Anton Sudibyo
Aprinus Salam
Arafat Nur
Arif Hidayat
Arman A.Z.
Arthur Rimbaud
Asap Studio
Asarpin
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Balada
Bambang Riyanto
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernadette Aderi
Bernando J. Sujibto
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budi Darma
Butet Kartaredjasa
Cak Bono
Catatan
Cecil Mariani
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Charles Bukowski
Christine Hakim
Cinta Laura Kiehl
D. Zawawi Imron
Dahta Gautama
Daisy Priyanti
Damhuri Muhammad
Danarto
Dara Nuzzul Ramadhan
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darojat Gustian Syafaat
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Dewi Sartika
Dharmadi
Dhenok Kristianti
Dian Wahyu Kusuma
Dianing Widya Yudhistira
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djoko Subinarto
Doan Widhiandono
Doddi Ahmad Fauji
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Dwi Cipta
Dwi Klik Santosa
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Enda Menzies
Erik Purnama Putra
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esti Nuryani Kasam
Evan Ys
Evi Idawati
F Aziz Manna
F. Rahardi
Fahrudin Nasrulloh
Fairuzul Mumtaz
Fajar Alayubi
Farah Noersativa
Faris Al Faisal
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrozak
Faza Bina Al-Alim
Feby Indirani
Felix K. Nesi
Fian Firatmaja
Firman Wally
Fiyan Arjun
Forum Penulis dan Pegiat Literasi Lamongan (FP2L)
Franz Kafka
Galih M. Rosyadi
Galuh Tulus Utama
Ganug Nugroho Adi
Garna Raditya
Gendut Riyanto
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Gombloh
Grathia Pitaloka
Gunawan Budi Susanto
Gunoto Saparie
Gurindam
Gusti Eka
H.B. Jassin
Halim HD
Hamdy Salad
Hamka
Hari Sulastri
Hasan Aspahani
Hasan Gauk
Hasbi Zainuddin
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Helvy Tiana Rosa
Hermawan Mappiwali
Herry Lamongan
Hikmat Gumelar
HM. Nasruddin Anshoriy Ch
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
Ibnu Wahyudi
Ida Fitri
IDG Windhu Sancaya
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Iksaka Banu
Ilham
Imam Muhayat
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Arlado
Imron Tohari
Indra Tjahyadi
Indrawati Jauharotun Nafisah
Indrian Koto
Inung As
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Ismi Wahid
Iva Titin Shovia
Iwan Fals
Iwan Kurniawan
Jakob Oetama
Janual Aidi
JJ. Kusni
Johan Fabricius
John H. McGlynn
Jordaidan Rizsyah
Jual Buku Sastra
K.H. A. Azis Masyhuri
Kadjie Mudzakir
Kahfie Nazaruddin
Kahlil Gibran
Kamajaya Al. Katuuk
Kamran Dikarma
Kedung Darma Romansha
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khatijah
Khoirul Inayah
Ki Dhalang Sulang
Ki Ompong Sudarsono
Kikin Kuswandi
Kodirun
Koh Young Hun
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Sastra Mangkubumen (KSM)
Komunitas Teater Se-Lamongan
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kucing Oren
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Muhammad
Kuswaidi Syafi’ie
Kuswinarto
L.K. Ara
Laksmi Shitaresmi
Lan Fang
Larung Sastra
Latief S. Nugraha
lensasastra.id
Leo Tolstoy
Leon Agusta
Linda Christanty
Lutfi Mardiansyah
M. Aan Mansyur
M. Arwan Hamidi
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Lutfi
M. Shoim Anwar
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marniati
Martin Aleida
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni Muserang
Mawar Kusuma
Max Arifin
Melani Budianta
Mihar Harahap
Mikael Johani
Miziansyah J.
Moch. Fathoni Arief
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Afifi
Mohammad Rafi Azzamy
Muhammad Hanif
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Subarkah
Muhammad Yasir
Muhammadun AS
Muhidin M. Dahlan
Mulyadi SA
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Myra Sidharta
Nadia Cahyani
Naim
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nessa Kartika
Ni Made Purnama Sari
Nikita Mirzani
Nirwan Ahmad Arsuka
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nurel Javissyarqi
Nurul Fahmy
Nurul Ilmi Elbana
Nyoman Tusthi Eddy
Ong Hok Ham
Orasi Budaya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Pay Jarot Sujarwo
PDS H.B. Jassin
Pendidikan
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringgo HR
Prosa
Pudyo Saptono
Puisi
Pustaka Bergerak
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
Qismatun Nihayah
R Sutandya Yudha Khaidar
R Toto Sugiharto
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmat Sutandya Yudhanto
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Prambudhi Dikimara
Rambuana
Ramdhan Triyadi Bempah
Ratnani Latifah
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ribut Wijoto
Ricarda Huch
Riezky Andhika Pradana
Riki Dhamparan Putra
Rizki Aprima Putra
Rokhim Sarkadek
Rony Agustinus
Royyan Julian
Rukardi
Rumah Budaya Pantura
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Ruth Indiah Rahayu
S Yoga
S. Arimba
S. Jai
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Sahaya Santayana
Sahli Hamid
Saini KM
Sajak
Salvator Yen Joenaidy
Samsul Anam
Sapardi Djoko Damono
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Selendang Sulaiman
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setyaningsih
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Soediro Satoto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sosial Media Sastra
Sosiawan Leak
Sovian Lawendatu
Sudarmoko
Sudirman
Sugeng Sulaksono
Sugito Ha Es
Sumani
Sumargono SN
Suminto A. Sayuti
Sunaryata Soemarjo
Sunaryono Basuki Ks
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Suryanto Sastroatmodjo
Susie Evidia Y
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syaifuddin Gani
Syaiful Irba Tanpaka
T Agus Khaidir
T.A. Sakti
Tangguh Pitoyo
Tatan Daniel
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
Teater Eska
Teater Pendopo nDalem Mangkubumen (Dokumen)
Teater Tawon
Tedy Kartyadi
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Tiya Hapitiawati
Tiyasa Jati Pramono
Toeti Heraty
TS Pinang
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vika Wisnu
W.S. Rendra
Wahyu Triono Ks
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Jengki Sunarta
Wayan Sunarta
Welly Kuswanto
Wilda Fizriyani
Willy Ana
Y Alpriyanti
Y.B. Mangunwijaya
Yanto le Honzo
Yasin Susilo
Yasir Amri
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yonathan Rahardjo
Yudha Kristiawan
Yudhistira ANM Massardi
Yulhasni
Zehan Zareez
Zuhdi Swt
Zul Afrita